Senin, 07 Desember 2015

DIAN DWI LESTARI - 1815152573

LAPORAN OBSERVASI KONSEP DASAR IPS
"PERKAMPUNGAN BETAWI SETU BABAKAN"
Dosen Mata Kuliah : Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd








Disusun oleh :

DIAN DWI LESTARI
KELAS F
1815152573


JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2015









KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat sehat dan limpahan rahmat-Nya sehingga penyusunan laporan guna memenuhi tugas mata kuliah Konsep Dasar IPS ini dapat selesai dengan tepat waktu. Shalawat serta salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW dan semoga kita selalu berpegang teguh pada sunnahnya. Aamiin.

Laporan ini saya susun dengan tujuan sebagai informasi serta untuk memperluas wawasan khususnya mengenai Kebudayaan Betawi di Perkampungan Setu Babakan dan adapun metode yang kami ambil dalam penyusunan laporan ini adalah berdasarkan pengumpulan sumber informasi melalui observasi ke Perkampungan Betawi Setu Babakan.

Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat khususnya untuk para pembaca dan tidak lupa saya mohon maaf apabila dalam penyusunan laporan ini terdapat kesalahan baik dalam kosa kata ataupun isi dari keseluruhan laporan ini. Saya sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh sebab itu, kritik dan saran sangat saya harapkan demi pembuatan laporan yang lebih baik lagi kedepannya.

Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Jakarta,  Desember 2015

Penyusun


Dian Dwi Lestari



DAFTAR ISI

Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penulisan
1.3 Manfaat Kegiatan
1.4 Pelaksanaan Kegiatan
BAB II PEMBAHASAN
2.1    Sejarah Setu Babakan
2.2    Kegiatan yang Dilakukan di Setu Babakan
2.2.1 Membuat Kembang Goyang
2.2.2 Membatik
2.2.3 Membuat Ondel-ondel
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran
Daftar Pustaka


DAFTAR GAMBAR

1. Apel Pembukaan

  
2. Pemberian Plakat 
3. Foto Bersama
 4. Membuat Kembang Goyang
5. Membatik


6. Membuat Ondel-ondel



BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
     Indonesia terkenal dengan keanekaragaman suku dan budayanya. Salah satu budaya yang ada di Indonesia adalah suku Betawi. Di Daerah Khusus Ibukota khususnya di Jakarta Selatan, terdapat satu perkampungan Betawi yaitu Perkampungan Betawi Setu Babakan. Tempat ini didirikan sebagai sarana pelestarian dan pemeliharaan budaya betawi di Jakarta pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Setu Babakan terletak di Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan atau lebih dekat dengan Depok. Situ atau Setu Babakan merupakan danau buatan dengan luas area nya 32 hektar dimana airnya berasal dari Sungai Ciliwung. Danau ini merupakan tempat untuk rekreasi air seperti memancing, sepeda air, atau bersepeda mengelilingi tepian danau. Selain danau, hal menarik dari Setu Babakan ini adalah ciri khas budaya betawi dapat kita nikmati setiap hari. Tidak hanya langsung mengkonsumsi, membuatnya sendiri pun dapat dilakukan, contohnya: membuat dodol, membuat kembang goyang, membatik, membuat ondel-ondel dan lain sebagainya.

     Dewasa ini, kebudayaan asli Indonesia sudah mulai pudar dan perlahan ditinggalkan oleh masyarakatnya, khususnya pemuda-pemudi Indonesia. Globalisasi dan pengaruh lain pun dengan mudah mengalihkan minat dan perhatian masyarakat Indonesia terhadap budaya asli sendiri. Oleh karena itu, dengan observasi ini diharapkan mampu memupuk kecintaan kita terhadap budaya asli Indonesia serta menambah wawasan tentang bagaimana suatu budaya itu dilestarikan.


1.2 Tujuan Penulisan

Laporan ini disusun dengan tujuan :

- Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Konsep Dasar IPS
- Untuk memberikan informasi tentang Setu Babakan
- Untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan di Setu Babakan
- Untuk mempublikasi bahwa Betawi mempunyai ciri khas yang menarik
- Untuk menginspirasi bahwa budaya sendiri mampu bersaing dengan budaya asing


1.3 Manfaat Kegiatan

Kegiatan observasi ke Setu Babakan ini memiliki beberapa manfaat, antara lain :
- Mengamati langsung proses pelestarian budaya Betawi
- Dapat mempraktekan sendiri beberapa ciri khas kebudayaan Betawi
- Memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang ciri khas budaya Betawi
- Dapat mengajarkan dan memberitahukan kepada orang lain tentang kebudayaan Betawi


1.4 Pelaksanaan Kegiatan

- Hari/Tanggal     : Senin, 30 November 2015
- Waktu                : Pukul 09.00-12.00 WIB
- Lokasi           : Perkampungan Betawi Setu Babakan, Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
- Peserta              : 8 mahasiswa dan 35 mahasiswi Kelas F 2015 PGSD UNJ
- Pendamping     : Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd      










BAB II PEMBAHASAN



2.1 Sejarah Perkampungan Betawi Setu Babakan

Sejarahnya, penetapan Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi sebenarnya sudah direncanakan sejak tahun 1996. Sebelum itu, Pemerintah DKI Jakarta juga pernah berencana menetapkan kawasan Condet, Jakarta Timur, sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi, namun urung (batal) dilakukan karena seiring perjalanan waktu perkampungan tersebut semakin luntur dari nuansa budaya Betawi-nya. Dari pengalaman ini, Pemerintah DKI Jakarta kemudian merencanakan kawasan baru sebagai pengganti kawasan yang sudah direncanakan tersebut. Melalui SK Gubernur No. 9 tahun 2000 dipilihlah perkampungan Setu Babakan adalah sebuah kawasan perkampungan yang ditetapkan Pemerintah Jakarta sebagai tempat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi. Setu Babakan diresmikan oleh Pemerintah DKI Jakarta pada tanggal 20 Januari 2001.
Perkampungan yang terletak di Kota Jakarta Selatan merupakan salah satu objek wisata yang menarik bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana khas pedesaan atau menyaksikan budaya Betawi asli secara langsung. Di perkampungan ini, masyarakat Setu Babakan masih mempertahankan budaya dan cara hidup khas Betawi,  memancing, bercocok tanam, berdagang, membuat kerajinan tangan, dan membuat makanan khas Betawi. Melalui cara hidup inilah, mereka aktif menjaga lingkungan dan meningkatkan taraf hidupnya. Perkampungan Betawi  ini memiliki luas wilayah 289 hektar, 65 hektar di antaranya adalah milik pemerintah di mana yang baru dikelola hanya 32 hektar. Tanaman yang terdapat di perkampungan ini diantaranya Mangga, Palem, Melinjo, Rambutan, Jambu, Pandan, Kecapi, Jamblang, Krendang, Guni, Nangka Cimpedak, Nam-nam, dan Jengkol.
Setu Babakan memiliki tujuan dan fungsi, mengapa dapat dijadikan sebuah perkampungan Betawi, tujuannya ada dua yaitu mengangkat harkat dan martabat masyarakat Betawi. Yang kedua untuk mengangkat perekonomian masyarakat yang tinggal di kawasan perkampungan Betawi. Selanjutnya, memiliki enam fungsi yaitu sebagai sarana ibadah, sarana pemukiman, sarana informasi, sarana pelestarian dan pengembangan, sarana penelitian, dan sarana pariwisata.

Fungsi dari Perkampungan Budaya Betawi berdasarkan Perda No. 3 Tahun 2005 ada 6, yaitu:
1.     Sebagai sarana ibadah;
2.     Sebagai sarana pemukiman atau tempat tinggal;
3.     Sebagai sarana informasi;
4.     Sebagai sarana pelestarian dan pengembangan;
5.     Sebagai sarana penelitian dan;
6.     Sebagai sarana pariwisata.



2.2 Kegiatan yang Dilakukan di Setu Babakan

     Observasi ke Setu Babakan ini memiliki beberapa rangkaian kegiatan, diantaranya Apel Pembukaan yang disertai dengan penjelasan singkat tentang Setu Babakan dan pemberian plakat, dilanjutkan dengan membuat kembang goyang, lalu membatik dan terakhir adalah membuat ondel-ondel dengan cara yang sederhana. Berikut adalah beberapa aspek ciri khas kebudayaan Betawi yang dipraktikan langsung oleh mahasiswa-mahasiswi kelas F PGSD UNJ 2015.


2.2.1 Membuat Kembang Goyang


         Makanan khas Betawi ini biasanya dinikmati pada saat ada acara besar seperti hari raya, khitanan, atau acara-acara lain. Namun, setelah adanya perkampungan budaya Betawi ini makanan khas Betawi dapat dinikmati setiap hari. Bukan hanya kembang goyang, dodol dan makanan khas Betawi yang lain pun dapat dinikmati setiap hari di perkampungan ini. Kalau pada zaman dahulu belum tentu dapat dinikmati setiap hari. Asal-usul nama kembang goyang adalah kembang berarti bunga. Jadi makanan khas Betawi ini berbentuk bunga dan cara menggorengnya adalah dengan digoyang-goyangkan cetakan yang berbentuk bunga tersebut.Untuk membuat makanan khas Betawi ini, maka harus dilakukan beberapa proses sebagai berikut.

Bahan-bahan yang diperlukan :
- Telur                            - Mentega
- Gula Pasir                    - Minyak Goreng
- Garam                          - Air Mineral
- Tepung Terigu              - Santan Kelapa



Cara membuat adonan kembang goyang :
Masukkan telur mentega gula pasir garam, aduk sampai gulanya halus lalu masukkan tepung terigu santan kelapa dan air putih lalu aduk adonan sampai tidak terlalu kental dan tidak terlalu cair.
Cetakkan dapat dibeli di pasar tradisional dengan berbagai macam ukuran, ada yang ukuran kecil, sedang dan besar. Untuk percobaan ini, kita menggunakan cetakan dengan ukuran sedang. Kembang goyang yang akan dibuat adalah kembang goyang dengan rasa original yaitu rasanya manis karena memakai gula pasir. Untuk variasi, dapat ditambahkan wijen dan sebagainya.


Cara menggoreng kembang goyang :
1.      Tuang minyak ke wajan secukupnya, nyalakan kompor lalu biarkan minyak sampai panas yang cukup. Minyak tidak boleh sangat panas karena adonan nya tidak akan lepas dari cetakan saat digoreng.
2.      Panaskan cetakan pada minyak yang sudah panas, lalu celupkan cetakan kembang goyang ke adonan sampai rata tetapi cetakan tidak boleh tercelup sampai tenggelam ke dalam adonan.
3.      Setelah cetakan terisi adonan sampai merata, masukkan ke minyak panas sampai tenggelam lalu digoyang-goyangkan sehingga adonan yang menempel pada cetakan lepas dengan sendirinya dan terbentuklah kembang goyang.
4.      Tunggu beberapa saat sampai warnanya seperti coklat muda lalu angkat dan tiriskan kembang goyang tersebut.
5.      Kembang goyang original siap untuk disajikan.



2.2.2 Membatik



                  Setelah membuat kembang goyang dan tentu saja mencicipi rasa kembang goyang yang telah kami buat sendiri, kegiatan berikutnya adalah membuat batik. Batik dibuat ditempat yang lebih terbuka karena membuat batik berhubungan dengan cairan lilin yang dipanaskan untuk memberi motif pada kain, menjemur, dan proses-proses lain yang lebih baik ditempatkan pada tempat yang sedikit terbuka. Batik khas betawi memiliki cirri khas tersendiri. Motif pada batik khas betawi sangat beragam seperti: motif ondel-ondel, motif rumah adat betawi, motif monas sebagai lambang ibukota, motif bunga-bunga dan sebagainya. Pembatik di perkampungan betawi Situ Babakan ini pun adalah orang-orang yang sudah professional dan terlatih kemampuannya sehingga batik yang dihasilkan pun tidak diragukan lagi kualitasnya. Salah satu pembatik yang kami temui adalah pembatik yang telah menamatkan pendidikannya di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Tempat pembuatan batik ini dibagi menjadi beberapa tahapan. Diantaranya adalah tahap membatik menggunakan canting, tahap membuat cetakan motif, tahap membuat lilin cair, tahap mencap cetakan motif ke kain batik, tahap pewarnaan, tahap pencucian dan tahap penjemuran. Semua proses disini dilakukan dengan cara tradisional khas betawi. Pada kesempatan kunjungan kami ke perkampungan budaya betawi Setu Babakan ini, kami diberi kesempatan untuk membatik menggunangan canting. Berikut adalah proses membatik menggunakan canting.
Tahapan atau proses membatik menggunakan canting :
- Pakai kain yang sudah ada tali diatasnya untuk diikatkan ke pinggang. Kain ini berfungsi sebagai pelindung rok atau celana kita saat membatik menggunakan canting sehingga apabila ada cairan lilin yang menetes tidak mengenai rok atau celana kita secara langsung.
- Pegang kain putih yang sudah diberi gambar pola motif batik menggunakan tangan kiri.
- Ambil canting lalu isi bagian atas canting dengan cairan lilin khusus untuk membatik. Dalam pengisian cairan lilin ke canting, tidak boleh terlalu penuh karena dapat meluber di kain putih dan isinya pun cepat kering apabila cairan lilin tersebut sudah tidak panas. Jadi, ini cairan lilin ke dalam canting hanya sedikit saja.
- Selanjutnya adalah pegang canting seperti memegang pensil, lalu posisi ujung canting yang runcing harus sedikit menghadap keatas agar cairan lilin yang ada didalamnya tidak keluar berlebihan.
- Kemudian ikuti gambar pola yang sudah ada di kain putih tersebut. Cairan lilin yang diaplikasikan ke kain menggunakan canting sebaiknya menembus sampai bagian belakang kain agar motifnya lebih nyata dan hasilnya lebih bagus.
- Setelah selesai membatik menggunakan canting pada semua gambar pola motifnya, keringkan kain tersebut untuk selanjutnya dilakukan proses pewarnaan.  


2.2.3 Membuat Ondel-ondel



        Ondel-ondel merupakan sebuah bagian terpenting dari masyarakat Betawi, dalam  masyarakat Betawi dahulu ondel-ondel mempunya fungsi sebagai pengusir hantu dan penolak bala. Sekarang ondel-ondel digunakan untuk hiasan dan sebagai pajangan. Berikut adalah proses pembuatan ondel-ondel dengan cara sederhana.

Alat dan Bahan :
- Shuttlecock
- Lem Kertas
- Kain Perca yang sudah digunting kecil-kecil
- Gunting
- Lidi
- Pernak-pernik
- Spidol kecil warna merah dan hitam


Cara Membuat :

Lilitkan kain yang sudah digunting kecil-kecil ke seluruh bagian shuttlecock menggunakan lem kertas secukupnya atau hanya pada ujung-ujung kain. Lalu kepala shuttlecock diberi pernak-pernik dan digambar membentuk wajah dengan menggunakan spidol.










BAB III PENUTUP

 
3.1 Kesimpulan
     Berdasarkan rangkaian kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa kunjungan ke situs budaya sangat diperlukan khususnya untuk generasi muda karena generasi muda lah yang akan meneruskan dan melestarikan serta menjaga kekayaan budaya ini. Seperti yang sudah dilakukan dalam rangkaian kegiatan observasi ini, membuat ondel-ondel dapat dilakukan dengan bahan-bahan yang sederhana di sekitar kita. Membuat kembang goyang pun tak sesulit apa yang telah kita presepsikan selama ini. Kita juga mengetahui bahwa ternyata Betawi mempunyai batik dengan motif yang sangat menarik. Perkampungan Betawi Setu Babakan ini dapat menjadi sarana pembelajaran yang sangat efektif karena pengunjung dapat secara langsung ikut melakukan proses pembuatan beberapa ciri khas budaya Betawi.

3.2 Saran
     Sebaiknya, generasi muda sadar bahwa Indonesia masih memiliki kebudayaan beraneka ragam yang sangat menarik untuk dipelajari. Melestarikan tidak harus menjaga setiap hari, tetapi dapat dilakukan dengan cara sederhana yaitu dengan menanamkan rasa bangga terhadap budaya sendiri dan tidak melulu mengagungkan budaya asing. Karena tanpa kepedulian masyarakatnya, budaya Indonesia akan dengan mudah diambil oleh negara lain. 




DAFTAR PUSTAKA




 
























 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar