LAPORAN OBSERVASI KONSEP DASAR IPS
"PERKAMPUNGAN BETAWI SETU BABAKAN"
Dosen Mata Kuliah : Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd
Disusun oleh :
DIAN DWI LESTARI
KELAS F
1815152573
JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2015
KATA PENGANTAR
Assalamualaikum
Warahmatullahi Wabarakatuh.
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT atas nikmat
sehat dan limpahan rahmat-Nya sehingga penyusunan laporan guna memenuhi tugas mata
kuliah Konsep Dasar IPS ini dapat selesai dengan tepat waktu. Shalawat serta
salam selalu tercurahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW dan semoga kita selalu
berpegang teguh pada sunnahnya. Aamiin.
Laporan ini saya susun dengan tujuan sebagai informasi serta
untuk memperluas wawasan khususnya mengenai Kebudayaan Betawi di Perkampungan
Setu Babakan dan adapun metode yang kami ambil dalam penyusunan laporan ini
adalah berdasarkan pengumpulan sumber informasi melalui observasi ke
Perkampungan Betawi Setu Babakan.
Semoga laporan ini dapat memberikan manfaat khususnya untuk
para pembaca dan tidak lupa saya mohon maaf apabila dalam penyusunan laporan
ini terdapat kesalahan baik dalam kosa kata ataupun isi dari keseluruhan
laporan ini. Saya sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh
sebab itu, kritik dan saran sangat saya harapkan demi pembuatan laporan yang
lebih baik lagi kedepannya.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Jakarta, Desember
2015
Penyusun
Dian Dwi Lestari
DAFTAR ISI
Kata Pengantar
Daftar Isi
Daftar Gambar
Daftar Gambar
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
1.2 Tujuan Penulisan
1.3 Manfaat Kegiatan
1.4 Pelaksanaan Kegiatan
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Sejarah Setu Babakan
2.2 Kegiatan yang Dilakukan di Setu Babakan
2.2.1 Membuat Kembang Goyang
2.2.2 Membatik
2.2.3 Membuat Ondel-ondel
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia terkenal dengan keanekaragaman suku dan budayanya. Salah satu budaya yang ada di Indonesia adalah suku Betawi. Di Daerah Khusus Ibukota khususnya di Jakarta Selatan, terdapat satu perkampungan Betawi yaitu Perkampungan Betawi Setu Babakan. Tempat ini didirikan sebagai sarana pelestarian dan pemeliharaan budaya betawi di Jakarta pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya. Setu Babakan terletak di Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan atau lebih dekat dengan Depok. Situ atau Setu Babakan merupakan danau buatan dengan luas area nya 32 hektar dimana airnya berasal dari Sungai Ciliwung. Danau ini merupakan
tempat untuk rekreasi air seperti memancing, sepeda air, atau bersepeda
mengelilingi tepian danau. Selain danau, hal menarik dari Setu Babakan ini adalah ciri khas budaya betawi dapat kita nikmati setiap hari. Tidak hanya langsung mengkonsumsi, membuatnya sendiri pun dapat dilakukan, contohnya: membuat dodol, membuat kembang goyang, membatik, membuat ondel-ondel dan lain sebagainya.
Dewasa ini, kebudayaan asli Indonesia sudah mulai pudar dan perlahan ditinggalkan oleh masyarakatnya, khususnya pemuda-pemudi Indonesia. Globalisasi dan pengaruh lain pun dengan mudah mengalihkan minat dan perhatian masyarakat Indonesia terhadap budaya asli sendiri. Oleh karena itu, dengan observasi ini diharapkan mampu memupuk kecintaan kita terhadap budaya asli Indonesia serta menambah wawasan tentang bagaimana suatu budaya itu dilestarikan.
1.2 Tujuan Penulisan
Laporan ini disusun dengan tujuan :
- Untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Konsep Dasar IPS
- Untuk memberikan informasi tentang Setu Babakan
- Untuk mengetahui kegiatan yang dilakukan di Setu Babakan
- Untuk mempublikasi bahwa Betawi mempunyai ciri khas yang menarik
- Untuk menginspirasi bahwa budaya sendiri mampu bersaing dengan budaya asing
1.3 Manfaat Kegiatan
Kegiatan observasi ke Setu Babakan ini memiliki beberapa manfaat, antara lain :
- Mengamati langsung proses pelestarian budaya Betawi
- Dapat mempraktekan sendiri beberapa ciri khas kebudayaan Betawi
- Memperkaya wawasan dan pengetahuan tentang ciri khas budaya Betawi
- Dapat mengajarkan dan memberitahukan kepada orang lain tentang kebudayaan Betawi
1.4 Pelaksanaan Kegiatan
- Hari/Tanggal : Senin, 30 November 2015
- Waktu : Pukul 09.00-12.00 WIB
- Lokasi : Perkampungan Betawi Setu Babakan, Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan.
- Peserta : 8 mahasiswa dan 35 mahasiswi Kelas F 2015 PGSD UNJ
- Pendamping : Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd
BAB II PEMBAHASAN
Sejarahnya, penetapan
Setu Babakan sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi sebenarnya sudah direncanakan
sejak tahun 1996. Sebelum itu, Pemerintah DKI Jakarta juga pernah berencana
menetapkan kawasan Condet, Jakarta Timur, sebagai kawasan Cagar Budaya Betawi,
namun urung (batal) dilakukan karena seiring perjalanan waktu
perkampungan tersebut semakin luntur dari nuansa budaya Betawi-nya. Dari
pengalaman ini, Pemerintah DKI Jakarta kemudian merencanakan kawasan baru
sebagai pengganti kawasan yang sudah direncanakan tersebut. Melalui SK Gubernur
No. 9 tahun 2000 dipilihlah perkampungan Setu Babakan adalah sebuah kawasan
perkampungan yang ditetapkan Pemerintah Jakarta sebagai tempat pelestarian dan
pengembangan budaya Betawi. Setu Babakan diresmikan oleh Pemerintah DKI Jakarta
pada tanggal 20 Januari 2001.
Perkampungan yang
terletak di Kota Jakarta Selatan merupakan salah satu objek wisata yang menarik
bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana khas pedesaan atau menyaksikan
budaya Betawi asli secara langsung. Di perkampungan ini, masyarakat Setu
Babakan masih mempertahankan budaya dan cara hidup khas Betawi,
memancing, bercocok tanam, berdagang, membuat kerajinan tangan, dan
membuat makanan khas Betawi. Melalui cara hidup inilah, mereka aktif menjaga
lingkungan dan meningkatkan taraf hidupnya. Perkampungan Betawi ini memiliki luas wilayah 289 hektar, 65
hektar di antaranya adalah milik pemerintah di mana yang baru dikelola hanya 32
hektar. Tanaman yang terdapat di perkampungan ini diantaranya Mangga, Palem, Melinjo, Rambutan, Jambu, Pandan, Kecapi,
Jamblang, Krendang, Guni, Nangka Cimpedak, Nam-nam, dan Jengkol.
Setu Babakan memiliki
tujuan dan fungsi, mengapa dapat dijadikan sebuah perkampungan Betawi,
tujuannya ada dua yaitu mengangkat harkat dan martabat masyarakat Betawi. Yang
kedua untuk mengangkat perekonomian masyarakat yang tinggal di kawasan
perkampungan Betawi. Selanjutnya, memiliki enam fungsi yaitu sebagai sarana
ibadah, sarana pemukiman, sarana informasi, sarana pelestarian dan
pengembangan, sarana penelitian, dan sarana pariwisata.
Fungsi
dari Perkampungan Budaya Betawi berdasarkan Perda No. 3 Tahun 2005 ada 6,
yaitu:
1.
Sebagai sarana ibadah;
2.
Sebagai sarana pemukiman atau tempat tinggal;
3.
Sebagai sarana informasi;
4.
Sebagai sarana pelestarian dan pengembangan;
5.
Sebagai sarana penelitian dan;
6.
Sebagai sarana pariwisata.
2.2 Kegiatan yang Dilakukan di Setu Babakan
Observasi ke Setu Babakan ini memiliki beberapa rangkaian kegiatan, diantaranya Apel Pembukaan yang disertai dengan penjelasan singkat tentang Setu Babakan dan pemberian plakat, dilanjutkan dengan membuat kembang goyang, lalu membatik dan terakhir adalah membuat ondel-ondel dengan cara yang sederhana. Berikut adalah beberapa aspek ciri khas kebudayaan Betawi yang dipraktikan langsung oleh mahasiswa-mahasiswi kelas F PGSD UNJ 2015.
2.2.1 Membuat Kembang Goyang
Makanan khas Betawi ini
biasanya dinikmati pada saat ada acara besar seperti hari raya, khitanan, atau
acara-acara lain. Namun, setelah adanya perkampungan budaya Betawi ini makanan
khas Betawi dapat dinikmati setiap hari. Bukan hanya kembang goyang, dodol dan
makanan khas Betawi yang lain pun dapat dinikmati setiap hari di perkampungan
ini. Kalau pada zaman dahulu belum tentu dapat dinikmati setiap hari. Asal-usul nama kembang goyang adalah kembang berarti bunga.
Jadi makanan khas Betawi ini berbentuk bunga dan cara menggorengnya adalah
dengan digoyang-goyangkan cetakan yang berbentuk bunga tersebut.Untuk membuat makanan khas Betawi ini, maka harus dilakukan beberapa proses sebagai berikut.
Bahan-bahan yang diperlukan :
- Telur - Mentega
- Gula Pasir - Minyak Goreng
- Garam - Air Mineral
Cara membuat adonan
kembang goyang :
Masukkan telur mentega
gula pasir garam, aduk sampai gulanya halus lalu masukkan tepung terigu santan
kelapa dan air putih lalu aduk adonan sampai tidak terlalu kental dan tidak
terlalu cair.
Cetakkan dapat dibeli
di pasar tradisional dengan berbagai macam ukuran, ada yang ukuran kecil,
sedang dan besar. Untuk percobaan ini, kita menggunakan cetakan dengan ukuran
sedang. Kembang goyang yang akan dibuat adalah kembang goyang dengan rasa
original yaitu rasanya manis karena memakai gula pasir. Untuk variasi, dapat
ditambahkan wijen dan sebagainya.
Cara menggoreng kembang
goyang :
1.
Tuang minyak ke wajan secukupnya,
nyalakan kompor lalu biarkan minyak sampai panas yang cukup. Minyak tidak boleh
sangat panas karena adonan nya tidak akan lepas dari cetakan saat digoreng.
2.
Panaskan cetakan pada minyak yang sudah
panas, lalu celupkan cetakan kembang goyang ke adonan sampai rata tetapi
cetakan tidak boleh tercelup sampai tenggelam ke dalam adonan.
3.
Setelah cetakan terisi adonan sampai
merata, masukkan ke minyak panas sampai tenggelam lalu digoyang-goyangkan
sehingga adonan yang menempel pada cetakan lepas dengan sendirinya dan
terbentuklah kembang goyang.
4.
Tunggu beberapa saat sampai warnanya
seperti coklat muda lalu angkat dan tiriskan kembang goyang tersebut.
Setelah membuat kembang goyang dan tentu saja mencicipi rasa kembang goyang yang telah kami buat sendiri, kegiatan berikutnya adalah membuat batik. Batik dibuat ditempat yang lebih terbuka karena membuat batik berhubungan dengan cairan lilin yang dipanaskan untuk memberi motif pada kain, menjemur, dan proses-proses lain yang lebih baik ditempatkan pada tempat yang sedikit terbuka. Batik khas betawi memiliki cirri khas tersendiri. Motif pada batik khas betawi sangat beragam seperti: motif ondel-ondel, motif rumah adat betawi, motif monas sebagai lambang ibukota, motif bunga-bunga dan sebagainya. Pembatik di perkampungan betawi Situ Babakan ini pun adalah orang-orang yang sudah professional dan terlatih kemampuannya sehingga batik yang dihasilkan pun tidak diragukan lagi kualitasnya. Salah satu pembatik yang kami temui adalah pembatik yang telah menamatkan pendidikannya di IKJ (Institut Kesenian Jakarta). Tempat pembuatan batik ini dibagi menjadi beberapa tahapan. Diantaranya adalah tahap membatik menggunakan canting, tahap membuat cetakan motif, tahap membuat lilin cair, tahap mencap cetakan motif ke kain batik, tahap pewarnaan, tahap pencucian dan tahap penjemuran. Semua proses disini dilakukan dengan cara tradisional khas betawi. Pada kesempatan kunjungan kami ke perkampungan budaya betawi Setu Babakan ini, kami diberi kesempatan untuk membatik menggunangan canting. Berikut adalah proses membatik menggunakan canting.
Tahapan atau proses membatik menggunakan canting :
- Pakai kain yang sudah
ada tali diatasnya untuk diikatkan ke pinggang. Kain ini berfungsi sebagai
pelindung rok atau celana kita saat membatik menggunakan canting sehingga
apabila ada cairan lilin yang menetes tidak mengenai rok atau celana kita
secara langsung.
- Pegang kain putih yang
sudah diberi gambar pola motif batik menggunakan tangan kiri.
- Ambil canting lalu isi
bagian atas canting dengan cairan lilin khusus untuk membatik. Dalam pengisian
cairan lilin ke canting, tidak boleh terlalu penuh karena dapat meluber di kain
putih dan isinya pun cepat kering apabila cairan lilin tersebut sudah tidak
panas. Jadi, ini cairan lilin ke dalam canting hanya sedikit saja.
- Selanjutnya adalah
pegang canting seperti memegang pensil, lalu posisi ujung canting yang runcing
harus sedikit menghadap keatas agar cairan lilin yang ada didalamnya tidak
keluar berlebihan.
- Kemudian ikuti gambar
pola yang sudah ada di kain putih tersebut. Cairan lilin yang diaplikasikan ke
kain menggunakan canting sebaiknya menembus sampai bagian belakang kain agar
motifnya lebih nyata dan hasilnya lebih bagus.
- Setelah selesai
membatik menggunakan canting pada semua gambar pola motifnya, keringkan kain
tersebut untuk selanjutnya dilakukan proses pewarnaan.
Ondel-ondel merupakan sebuah bagian
terpenting dari masyarakat Betawi, dalam
masyarakat Betawi dahulu ondel-ondel mempunya fungsi sebagai pengusir
hantu dan penolak bala. Sekarang ondel-ondel digunakan untuk hiasan dan sebagai
pajangan. Berikut adalah proses pembuatan ondel-ondel dengan cara sederhana.
Alat dan Bahan :
- Shuttlecock
- Lem Kertas
- Kain Perca yang sudah digunting kecil-kecil
- Gunting
- Lidi
- Pernak-pernik
- Spidol kecil warna merah dan hitam
Cara Membuat :
Lilitkan kain yang sudah digunting kecil-kecil ke seluruh bagian shuttlecock menggunakan lem kertas secukupnya atau hanya pada ujung-ujung kain. Lalu kepala shuttlecock diberi pernak-pernik dan digambar membentuk wajah dengan menggunakan spidol.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan rangkaian kegiatan ini dapat disimpulkan bahwa kunjungan ke situs budaya sangat diperlukan khususnya untuk generasi muda karena generasi muda lah yang akan meneruskan dan melestarikan serta menjaga kekayaan budaya ini. Seperti yang sudah dilakukan dalam rangkaian kegiatan observasi ini, membuat ondel-ondel dapat dilakukan dengan bahan-bahan yang sederhana di sekitar kita. Membuat kembang goyang pun tak sesulit apa yang telah kita presepsikan selama ini. Kita juga mengetahui bahwa ternyata Betawi mempunyai batik dengan motif yang sangat menarik. Perkampungan Betawi Setu Babakan ini dapat menjadi sarana pembelajaran yang sangat efektif karena pengunjung dapat secara langsung ikut melakukan proses pembuatan beberapa ciri khas budaya Betawi.
3.2 Saran
Sebaiknya, generasi muda sadar bahwa Indonesia masih memiliki kebudayaan beraneka ragam yang sangat menarik untuk dipelajari. Melestarikan tidak harus menjaga setiap hari, tetapi dapat dilakukan dengan cara sederhana yaitu dengan menanamkan rasa bangga terhadap budaya sendiri dan tidak melulu mengagungkan budaya asing. Karena tanpa kepedulian masyarakatnya, budaya Indonesia akan dengan mudah diambil oleh negara lain.
DAFTAR PUSTAKA









Tidak ada komentar:
Posting Komentar