LAPORAN
HASIL KUNJUNGAN
KAMPUNG
BUDAYA BETAWI “SETU BABAKAN”
Membuat Kembang Goyang, Batik dan Ondel-ondel
(Ditujukan untuk memenuhi tugas
mata kuliah Konsep Dasar IPS)
Dosen: Ajat Sudrajat, M.Pd.
Disusun oleh:
Fimalda Pratiwi Hadiputri
1815152442
F PGSD 2015
PENDIDIKAN
GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
NEGERI JAKARTA
2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur penulis
panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat rahmat dan izin-Nya,
penulis dapat menyelesaikan laporan hasil kunjungan ini dengan tepat waktu.
Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada Bapak Ajat Sudrajat selaku dosen IPS yang telah
membimbing saya dalam menyusun laporan ini.
Dalam
laporan hasil kunjungan ini yang berjudul “Laporan
Hasil Kunjungan Kampung Budaya Betawi “Setu Babakan” membuat kembang goyang,
batik dan ondel-ondel” membahas mengenai keadaan kampung budaya betawi saat
ini serta kegiatan yang penulis lakukan selama melakukan kunjungan.
Penulis
menyadari terdapat banyak kesalahan dalam penulisan laporan hasil kunjungan
ini. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat penulis harapkan
sebagai perbaikan penulisan untuk kedepannya.
Semoga
penulisan laporan hasil kunjungan ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan saya
sendiri.
Jakarta,
2 Desember 2015
Penulis
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR.............................................................................................. i
DAFTAR
ISI............................................................................................................. ii
BAB
I PENDAHULUAN......................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang
Penulisan Laporan....................................................................... 1
1.2 Tujuan Penulisan
Laporan.................................................................................... 2
1.3 Manfaat Penulisan
Laporan.................................................................................. 3
1.4 Waktu dan Tempat
Pelaksanaan........................................................................... 3
BAB
II HASIL KUNJUNGAN................................................................................ 4
2.1 Pelaksanaan
Kegiatan............................................................................................ 4
2.2 Rincian Pelaksanaan
Kegiatan.............................................................................. 4
2.2.1 Kembang Goyang.......................................................................................... 4
2.2.2 Batik.............................................................................................................. 6
2.2.3 Ondel-ondel................................................................................................... 6
BAB
III PENUTUP.................................................................................................. 8
3.1 Kesimpulan.......................................................................................................... 8
3.2 Saran.................................................................................................................... 8
DAFTAR
PUSTAKA............................................................................................... 9
LAMPIRAN............................................................................................................. 10
BAB
I
PENDAHULUAN
1.1.
Latar
Belakang Penulisan
Pada
masa modernisasi ini, di Indonesia cukup sulit untuk menemukan tempat wisata
yang menawarkan kekhasan budayanya untuk dipertontonkan kepada para wisatawan. Kebanyakan
hanya menawarkan fasilitas alam yang indah dan sejuk atau tempat bermain untuk
anak, namun seakan melupakan untuk menawarkan kebudayaan yang dimilikinya,
padahal Indonesia memiliki berbagai macam kebudayaan dari ujung Sabang sampai
Merauke.
Di
daerah Jagakarsa, Jakarta Selatan terdapat salah satu tempat wisata yang masih
kental dengan budaya Betawinya, yaitu Setu Babakan. Tempat ini sekarang menjadi
kampung budaya Betawi berdasarkan SK Gubernur No. 3 tahun 2000 yang diresmikan
tanggal 20 Januari 2001 oleh Bapak Sutiyoso yang pada saat itu menjabat sebagai
gubernur DKI Jakarta. Tempat seluas 289 hektar yang terdiri dari 4 RW, yaitu
dari RW 6 sampai RW 9 ini adalah tempat yang digunakan sebagai pusat perkembangan
dan pelestarian budaya Betawi.
Sebelumnya,
Setu Babakan bukanlah tempat yang disebut-sebut sebagai kampung budaya,
melainkan hanya tempat wisata biasa seperti tempat-tempat lainnya. Namun karena
kegagalan Condet, maka diputuskanlah untuk mencari tempat lain yang cocok dijadikan
sebagai pusat budaya Betawi. Ada beberapa hal yang menyebabkan tempat ini terpilih
sebagai kampung budaya Betawi, yaitu masyarakat yang tinggal di sekitarnya
masih masyarakat asli Betawi, sehingga budaya dari masyarakat itu sendiri pun
masih sangat kental. Selain itu, karena potensi alamnya yang sangat mendukung
seperti adanya setu dan masih banyak pohon-pohon khas betawi.
Setu
Babakan berfungsi sebagai tempat ibadah, pemukiman warga, pusat informasi
budaya-budaya Betawi, sebagai tempat pelestarian dan pengembangan, tempat
penelitian dan sebagai tempat wisata bagi wisatawan lokal ataupun interlokal.
Setu Babakan juga menawarkan 3 konsep wisata, yaitu wisata budaya, wisata agro
dan wisata air. Hal inilah yang menarik para wisatawan untuk berkunjung ke Setu
Babakan.
Diresmikannya
Setu Babakan sebagai kampung budaya Betawi ini membawa banyak manfaat bagi para
pengunjung maupun warga di sekitarnya. Pengunjung Setu Babakan bisa mendapatkan
pengalaman untuk belajar membuat makanan ataupun benda-benda khas Betawi, serta
dimanjakan dengan banyaknya jajanan khas Betawi dan pemandangan Setu yang
sangat menyejukkan. Dibukanya tempat inipun membawa rejeki bagi para warga di
sekitar untuk berjualan jajanan ataupun benda-benda khas Betawi, sehingga dapat
mengangkat harkat dan martabat masyarakat Betawi serta meningkatkan
perekonomian di daerah sekitar.
Semoga
dengan dibukanya Setu Babakan sebagai pusat budaya Betawi ini dapat menumbuhkan
kembali rasa cinta dan rasa ingin melestarikan terhadap budaya Betawi terutama pada
masyarakatnya sendiri.
1.2.
Tujuan
Penulisan Laporan
Laporan
ini ditulis dengan tujuan:
1. Memenuhi
tugas mata kuliah IPS;
2. Membuka
wawasan dan pengetahuan mengenai berbagai macam budaya khas Betawi.
1.3.
Manfaat
Penulisan Laporan
Laporan
ini diharapkan dapat bermanfaat sebagai acuan bagi penulis dan pembaca untuk
ingin mengunjungi Setu Babakan dan mau ikut berpartisipasi dalam mengembangkan
dan melestarikan budaya Betawi.
1.4.
Waktu
dan Tempat Pelaksanaan
Tempat : Setu Babakan
Hari/Tanggal : Senin, 30 November 2015
Waktu :
07.00 s.d. 13.00 WIB
Kegiatan : Membuat kembang goyang, batik dan
ondel-ondel
BAB
II
HASIL
KUNJUNGAN
2.1.
Pelaksanaan
Kegiatan
Setu
Babakan merupakan satu-satunya tempat wisata di Jakarta yang menyajikan 3
fasilitas wisata, yaitu wisata budaya, wisata agro dan wisata air. Setu Babakan
juga merupakan tempat kebanggaan masyarakat Betawi karena telah mengangkat
budaya-budayanya melalui wisata.
Pada
kesempatan kali ini, tepatnya hari Senin tanggal 30 November 2015, saya bersama
teman-teman kelas F PGSD UNJ 2015 berkesempatan untuk mengunjungi Kampung
Budaya Betawi yang terletak di Setu Babakan ini dan diberi kesempatan pula
untuk mengetahui pembuatan benda dan makanan khas Betawi melalui percobaan yang
kami lakukan, yaitu pembuatan kembang goyang, batik dan ondel-ondel.
2.2.
Rincian
Pelaksanaan Kegiatan
2.2.1.
Kembang
Goyang
Kembang Goyang
adalah salah satu kue tradisional khas Betawi. Kue ini dinamakan Kembang Goyang
karena bentuknya yang menyerupai kelopak bunga atau kembang dan proses
pembuatannya yang digoyang-goyang hingga adonan terlepas dari cetakan.
Kue kembang
goyang menjadi suguhan masyarakat khas Betawi di hari raya Idul Fitri dan
acara-acara hajatan. Kue ini menjadi kue khas yang disajikan untuk tamu yang
bersilaturahmi karena memiliki rasa yang renyah dan gurih.
Melalui observasi yang saya lakukan, pembuatan
kembang goyang adalah sebagai berikut:
Bahan-bahan:
-
Telur ayam
-
Mentega
-
Gula pasir
-
Garam
-
Tepung terigu
-
Santan kelapa
-
Air putih
-
Minyak goreng
Cara
pembuatannya:
1. Buat adonan dari bahan-bahan yang ada. Adonan
tidak terlalu cair, tidak juga terlalu kental;
2. Setelah adonan selesai, panaskan minyak goreng
dalam jumlah banyak lalu celupkan cetakan kembang goyang hingga panas;
3. Setelah cetakan panas, celupkan kedalam
adonan. Cetakan tidak boleh tercelup sampai permukaan cetakan agar adonan bisa
terlepas dari cetakannya;
4. Segera masukkan cetakan yang sudah ada
adonan kedalam minyak sambil digoyang-goyangkan agar adonan terlepas dari
cetakannya;
5.
Setelah adonan berwarna kekuningan,
segera angkat dan tiriskan;
6. Setelah ditiriskan beberapa menit, kue
kembang goyang yang renyah bisa dapat disajikan dan dinikmati.
2.2.2.
Batik
Batik kini sudah
menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat Indonesia dalam berbusana. Bahkan
banyak berbagai acara yang mengharuskan setiap pesertanya datang dengan
berbusana batik.
Serupa dengan
batik-batik di berbagai daerah di Indonesia, Jakarta juga mempunyai batik yang
corak kainnya kerap disebut dengan batik Betawi. Namun, batik Betawi ini
memiliki warna dan corak yang berbeda dari berbagai batik kebanyakan. Batik ini
memiliki warna yang cerah dan coraknya diambil dari kekhasan yang dimiliki oleh
suku Betawi sendiri ataupun nilai-nilai yang berada di masyarakat.
Bahan-bahan yang
digunakan dan cara pembuatannya sama dengan pembuatan batik yang dimiliki di
daerah lain. Terdapat batik tulis ataupun batik cap yang proses pembuatan dari
awal sampai akhirnya pun sama dengan proses pembuatan batik di daerah lain. Namun,
batik Betawi ini memang semakin langka di pasaran, biasanya hanya bisa
ditemukan di pameran-pameran yang diadakan di Jakarta.
2.2.3.
Ondel-ondel
Ondel-ondel
adalah salah satu benda yang sangat mudah ditemukan di Jakarta. Boneka yang
berbadan besar ini biasanya ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat yang
memerankan leluhur atau nenek moyang yang senantiasa menjaga anak cucunya atau
penduduk suatu desa.
Pada awalnya,
ondel-ondel adalah benda yang berfungsi sebagai penolak bala atau gangguan roh
halus yang gentayangan. Namun, kali ini ondel-ondel tidak hanya berfungsi
sebagai penolak bala dan sejenisnya, boneka ini digunakan pula untuk menambah
semarak pesta atau untuk penyambutan tamu terhormat.
Di kampung budaya
Betawi, saya diajak untuk membuat ondel-ondel mini sebagai berikut:
Bahan-bahan:
-
Shuttlecock
bekas
-
Kain bekas
-
Kain flannel
-
Mata buatan
-
Lem putih
-
Spidol
-
Dll
Cara
Pembuatannya:
1. Kain
bekas yang sudah digunting sesuai ukurannya di rekatkan pada shuttlecock menggunakan lem putih;
2. Berikut
juga kain flannel dan mata buatannya hingga membentuk seperti ondel-ondel;
3. Tambahkan
mata, hidung dan mulut menggunakan spidol sesuai keinginan;
4. Tambahkan
kreasimu untuk ondel-ondel mini agar dapat terlihat lebih cantik dan menarik.
BAB
III
PENUTUP
3.1.
Kesimpulan
Setu
Babakan merupakan tempat yang menjadi pusat perkembangan dan pelestarian budaya
Betawi di Jakarta. Tempat ini disediakan agar para wisatawan dapat berwisata
bersama keluarga sekaligus mempelajari budaya Betawi sehingga mau ikut berpartisipasi
dalam melestarikan kebudayaan-kebudayaan Betawi.
Saya
bersama teman-teman kelas F PGSD UNJ 2015, berkunjung ke Setu Babakan dalam
rangka memenuhi tugas mata kuliah IPS dan telah mendapatkan banyak pengetahuan
mengenai budaya Betawi melalui proses observasi. Kami diberi kesempatan untuk
membuat kembang goyang, batik dan ondel-ondel. Selain itu, tujuan kami
melakukan kunjungan adalah untuk dapat memotivasi masyarakat sekitar agar
mencintai alam dan budayanya sendiri, dan mau mempelajari sekaligus
melestarikannya.
3.2.
Saran
Diharapkan
pemerintah dapat berpartisipasi dalam pengembangan tempat ini agar lebih banyak
yang mengetahui tentang kebudayaan Betawi dan mau mempelajarinya sambil
menikmati suasana Setu Babakan yang sejuk.
Semoga
laporan hasil kunjungan ini dapat bermanfaat baik bagi pembaca ataupun penulis.
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN













Tidak ada komentar:
Posting Komentar