Senin, 07 Desember 2015

Masripah/ Kelas F/ NIM: 1815152746













LAPORAN 
HASIL KUNJUNGAN OBSERVASI
PERKAMPUNGAN BUDAYA BETAWI
SETU BABAKAN
SRENGSENG SAWAH, JAGAKARSA, JAKARTA SELATAN
(Ditujukan untuk memenuhi mata kuliah Konsep Dasar IPS)
Dosen: Dr. Ajat Sudrajat, M.Pd




Disusun oleh : Masripah
NIM : 1815152746
KELAS F
PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2015


Kata Pengantar

            Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan hasil observasi ini tepat pada waktunya. Laporan ini disusun dalam rangka memenuhi tugas mata kuliah Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial mengenai pembelajaran konstektual kajian ilmu Antropologi.
            Namun penulis menyadari, laporan ini tidak akan tersusun dan terselesaikan dengan baik tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terimakasih kepada:
- Drs. Ajat Sudrajat, M.Pd selaku dosen pembimbing dan dosen mata kuliah Konsep Dasar IPS yang telah menugaskan observasi ini kepada penulis.
- Bang Indra Sutisna, S.Kom selaku pengelola perkampungan budaya betawistu babakan.
- Bang Roni selaku pemandu wisata Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan yang memberikan Informasi seputar Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.
- Mpok Uyun, para pekerja di bagian membuat batik serta abang-abang di bagian membuat ondel-ondel, yang telah membantu dalam mempraktikan pembuatan kembang goyang, batik betawi serta ondel-ondel.
- Orang tua penulis yang telah memberikan dukungan besar baik berupa material maupun spiritual. 
- Dan teman-teman Kelas F PGSD 2015 yang telah membantu dalam proses observasi serta penyusunan laporan ini, juga kepada semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. 
           Saran dan kritik yang membangun dari pembaca sangat penulis harapkan untuk perbaikan laporan observasi ini. Semoga laporan ini dapat bermanfaat untuk penulis sendiri dan pembaca.

Jakarta, 5 Desember 2015


Penulis
 
i


Daftar Isi

Kata Pengantar.......................................................................................................i 
Daftar Isi...............................................................................................................ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Masalah.....................................................................1
1.2  Tujuan Kunjungan...............................................................................2
1.3 Tujuan Laporan...................................................................................2
1.4  Pelaksanaan Kunjungan......................................................................2
1.5 Manfaat Kunjungan.............................................................................3
BAB II PEMBAHASAN
2.1 Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan....................................4
2.2 Kuliner Betawi (Kembang Goyang)...................................................8
2.3 Kerajinan Betawi (Batik Khas)..........................................................9
2.4 Kesenian Betawi (Ondel-ondel)........................................................10              
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan.......................................................................................13
3.2 Kesan dan Saran................................................................................13
Daftar Pustaka.....................................................................................................14  
Lampiran.............................................................................................................15

ii




BAB I
PENDAHULUAN


1.1       Latar Belakang Masalah

         Ilmu Antropologi adalah suatu studi ilmu yang mempelajari tentang manusia baik dari segi budaya, perilaku, keanekaragaman, dan lain sebagainya. Untuk memperdalam ilmu ini, maka alangkah baiknya jika terjun langsung ke dalam masyarakat. Salah satu kegiatan yang dapat dilakukan adalah dengan mengunjungi situs budaya yang berada di lingkungan sekitar.
Di kota metropolitan seperti Jakarta, rasanya cukup sulit untuk menemukan tempat yang masih terasa kental sekali akan budayanya. Hiruk pikuk kota Jakarta serta banyaknya pendatang yang menetap di kota Jakarta seakan membuat budaya kota Jakarta sendiri tergeser dengan adanya hal-hal baru, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Namun, ada suatu perkampungan yang sudah dirancang khusus untuk melestarikan budaya kota Jakarta, yaitu Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.
Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini terletak di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Suasana khas pedesaan masih bisa dirasakan di kawasan ini, karena lingkungannya yang masih alami banyaknya pohon-pohon yang rindang serta tata grahanya yang masih tradisional. Selain itu mayoritas penduduk di perkampungan ini merupakan suku asli betawi, maka dapat disaksikan secara langsung bagaimana daur hidup masyarakat betawi di sini.
Tidak hanya wisata budaya namun juga ada wisata kuliner serta wisata air. Banyak kuliner-kuliner khas betawi yang dijajakan di Perkampungan ini mulai dari makanannya seperti ketoprak, ketupat nyiksa, kerak telor, ketupat sayur, bakso, laksa, arum manis, soto betawi, soto mie, roti buaya, nasi uduk, kue apem, toge goreng, dan tahu gejrot, serta jangan lupa dengan minuman khasnya yaitu bir pletok.


1.2       Tujuan Kunjungan

            Tujuan dari dilakukannya observasi tentang Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan yang bertempat di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan yaitu:
1.     Untuk mengetahui daur hidup masyarakat betawi.
2.     Untuk mengali informasi lebih dalam mengenai budaya betawi.
3.     Untuk melihat secara langsung bagaimana interaksi masyarakat betawi.
4.     Untuk mengetahui daya tarik Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.


1.3       Tujuan Laporan
           
Laporan ini disusun dengan tujuan untuk memenuhi tugas Mata Kuliah Konsep Dasar IPS pada kajian ilmu Antropologi, yang mana laporan ini digunakan sebagai dokumentasi hasil kunjungan yang dilakukan. Tujuan lainnya adalah memberikan informasi mengenai Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan kepada pembaca.


1.4       Pelaksanaan Kunjungan

            Observasi ini dilakukan dengan keterangan sebagai berikut:
1.     Lokasi Observasi
Lokasi observasi adalah Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan yang beralamat di Jalan Moch Kahfi II, Rt.009/08, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan. Telp / Fax : (62) 21 786 2861.

2.     Waktu Observasi
Waktu observasi sekitar pukul 09.30 WIB sampai dengan 12.20 WIB, dilakukan pada hari Senin, tanggal 30 November 2015.

3.     Cara Kerja
Observasi ini dilakukan dengan cara terjun langsung ke Perkampungan Budaya Betawi dengan menerapkan 3 metode dalam memperoleh informasi, yaitu:
·       Metode Observasi
Penulis melakukan observasi lapangan dengan mengambil dan mengumpulkan data melalui praktik dan turun langsung.
·       Metode Wawancara
Penulis melakukan tanya jawab dengan pemandu wisata, karyawan atau pengelola tempat wisata.
·       Metode Ceramah
Pemandu wisata memberikan ceramah dan penjelasan mengenai hal-hal yang berkaitan dengan kebudayaan betawi.


1.5       Manfaat Kunjungan
           
          Melalui kunjungan ini mahasiswa diharapkan lebih tahu mengenai budaya betawi yang merupakan budaya khas dari Ibukota Negara Indonesia, yaitu kota Jakarta. Diharapkan pula agar nantinya dapat berperan dalam melestarikan serta mengembangkan kebudayaan betawi di masyarakat luar.

3


BAB II
PEMBAHASAN

 
 2.1       Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan
Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan yang beralamat di Jalan Moch Kahfi II, Rt.009/08, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jagakarsa, Jakarta Selatan merupakan suatu area yang dijaga untuk menjaga warisan budaya Jakarta, yaitu budaya asli Betawi. Selain itu kawasan ini merupakan perkampungan yang ditetapkan Pemerintah Jakarta sebagai tempat pelestarian dan pengembangan budaya Betawi secara berkesinambungan. Perkampungan ini merupakan alternatif yang tepat untuk masyarakat Jakarta dan sekitarnya yang ingin menikmati suasana pedesaan atau menyaksikan secara langsung budaya betawi. Di perkampungan ini, masyarakat Setu Babakan masih mempertahankan budaya dan cara hidup khas Betawi,  memancing, bercocok tanam, berdagang, membuat kerajinan tangan, dan membuat makanan khas Betawi. Melalui cara hidup inilah, mereka aktif menjaga lingkungan dan meningkatkan taraf hidupnya.
Awal mulanya perkampungan ini merupakan perkampungan biasa dengan mayoritas penduduk adalah masyarakat betawi. Untuk itu ada 3 hal yang menjadi alasan Pemerintah akhirnya memutuskan untuk membangun Perkampungan Budaya Betawi di Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Jakarta Selatan. Yang pertama adalah karena faktor masyarakat yang tinggal di kawasan ini mayoritas mbetawi awalnya 60% orang betawi dan 40%nya adalah pendatang dari beberapa daerah seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Kalimantan dan lain-lain. Alsan yang kedua adalah faktor kultur dan budaya betawinya, karena mayoritas betawi maka otomatis kultur serta budaya betawi masih terjaga. Dan yang terakhir atau yang ketiga adalah faktor penunjangnya, yaitu faktor alam, dimana kawasan ini mempunyai 2 Setu yaitu setu Mangga Balong dan setu Babakan, dan di sekitar kawasan ini banyak ditemukan tanaman-tanaman khas betawi seperti pohon kecapi, pohon krendang, pohon jamblang, pohon buni, pohon rambutan rapiah dan pohon gohok.
Perkampungan budaya ini didirikan pada 18 Agustus 2000 dengan diterbitkannya Surat Keputusan Gubernur DKI Nomor 92 tahun 2000. Sejak diterbitkannya Surat Keputusan itulah, satu demi satu fasilitas dibangun, perkampungan dan setu yang ada didalamnya dibangun dan ditata pada pertengahan Oktober 2000. Diresmikannya setelah beberapa tahun kemudian kurang lebih tanggal 20 Januari 2001 oleh Gubernur DKI Jakarta kala itu, Bapak Sutiyoso. Luas Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan berdasarkan Perda No. 3 Tahun 2005, kurang lebih 289 hektare, lain halnya jika berdasarkan SK Gubernur yang hanya sekitar 4000 meter.Perkampungan ini terdiri dari 4 rukun warga yaitu RW 6,7,8, dan 9.
Terdapat 2 tujuan pokok mengapa pemerintah membangun Perkampungan Budaya Betawi, yaitu untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat betawi yang notabennya adalah masyarakat inti dari kota Jakarta, baik secara budaya maupun ekonomi. Maksud dari budaya itu sendiri adalah melestarikan dan mengembangkan budaya betawi secara keseluruhan berkesinambungan baik itu yang bersifat fisik maupun no-fisik. Contohnya adalah kesenian, adat istiadat, tradisi, tata graha, tata busana, termasuk juga kulinernya baik itu makanan maupun minuman. Serta untuk mengangkat perekonomian masyarakat yang tinggal di kawasan Perkampungan Budaya Betawi.
Fungsi dari Perkampungan Budaya Betawi berdasarkan Perda No. 3 Tahun 2005 ada 6, yaitu:
1.     Sebagai sarana ibadah;
2.     Sebagai sarana pemukiman atau tempat tinggal;
3.     Sebagai sarana informasi;
4.     Sebagai sarana pelestarian dan pengembangan;
5.     Sebagai sarana penelitian dan;
6.     Sebagai sarana pariwisata.
Terdapat 3 konsep wisata yang tersedia di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini, yaitu:
·                 Wisata Budaya
Budaya yang diperkenalkan di perkampungan ini tentu saja budaya betawi. Pengelola Setu Babakan bekerjasama dengan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mengadakan acara rutin setiap hari Minggu Pukul 13.00 - 16.00 WIB menampilkan berbagai kesenian khas Betawi seperti kesenian tari, musik tanjidor, ondel-ondel, lenong, gambang kromong dan pencak silat. Selain itu, setiap hari Rabu dan Minggu sore terdapat juga pelatihan kesenian tari, musik dan beladiri betawi yaitu Silat Beksi. 
Sedangkan event tahunan yang diadakan dalam rangka ulang tahun Jakarta berupa festival budaya betawi semisal gebyar budaya betawi yang konten acaranya adalah penampilan seni, lomba-lomba yang berkaitan dengan kebudayaan betawi, serta prosesi-prosesi budaya Betawi, seperti upacara pernikahan, sunat, akikah, khatam Al-Qur‘an, dan nujuh bulan. 
Selain itu terdapat 2 event yang biasa diadakan, yaitu event reguler dan event tahunan. Untuk event reguler seperti yang sudah dijelaskan di atas, adalah acara rutin yang dilakukan seperti pagelaran kesenian betawi serta pelatihan kesenian-kesenian betawi, untuk pengunjung yang ingin menyaksikan pagelaran ini dapat datang langsung ke Perkampungan Budaya Betawi tanpa dipungut biaya alias gratis.

·                 Wisata Kuliner
Tidak lengkap rasanya apabila datang ke suatu tempat wisata belum mencicipi kulinernya, jangan khawatir di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan ini deretan penjaja makanan sepanjang Setu Babakan menawarkan banyak plihan kepada pengunjung. Pedagang setempat menjajakan makanan khas Betawi, seperti kerak telor, selendang mayang, gado-gado, pecak gurame, hingga laksa betawi.  Serta minuman khas betawi yaitu bir pletok. Jajanan khas yang tak perlu merogoh kocek terlalu dalam. Konsep kuliner di Setu Babakan memang diperuntukkan untuk jajanan rakyat.

·                 Wisata Air
Dengan adanya 2 setu di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan, yaitu setu Mangga Balong dan setu Babakan maka ini membuka peluang adanya wisata air. Pengunjung dapat melakukan beberapa kegiatan contohnya memancing, danau ini dapat menjadi lokasi yang tepat untuk berburu berbagai macam ikan air tawar. Mulai dari ikan sepat, lele, ikan mas, dan ikan gurame. Juga tersedia dari pihak pengelola saran transportasi hiburan, seperti sepeda air, bebek-bebekan, dan penyewaan sepeda bagi para pengunjung yang ingin berkeliling di sekeliling tepian Setu Babakan.
Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan hingga saat ini telah dilengkapi fasilitas-fasilitas umum, seperti tempat ibadah, toilet panggung pertunjukan seni, tempat bermain anak-anak, teater terbuka, wisma, kantor pengelola, galeri, dan pertokoan souvenir. Yang terpenting adalah kawasan di sekitar Perkampungan Budaya Betawi ini tertata rapih serta bersih dari sampah.
Akses menuju Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan cukup mudah, bagi pengunjung yang menggunakan moda transpotasi umum, dapat menggunakan:
·     Dari Terminal Pasar Minggu, pengunjung dapat menggunakan Kopaja No. 616 jurusan Blok M menuju Cimpedak. Lalu pengunjung dapat turun di depan pintu gerbang Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.
·       Dari Terminal Depok, pengunjung dapat menggunakan Kopaja 616 jurusan Blok M - Pasar Minggu - Cimpedak atau menggunakan angkutan umum bernomor 128, kemudian turun di depan pintu gerbang Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan.
·       Bagi pengguna KRL, berhenti di stasiun Tanjung Barat, kemudian menggunakan Kopaja 616 Jurusan Blok M-Pasar Minggu-Cimpedak, lalu turun di depan pintu gerbang Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan
Daya tarik yang utama dari Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan adalah konsep budaya dan kultur yang lebih dikedepankan dari pariwisata yang lain. Untuk itu jangan terlalu berharap lebih ada wisata modern di sini. Saat ini Perkampungan Budaya Betawi memiliki lahan dengan luas kurang lebih 2,8 hektare yang berbentuk pulau ada di sebelah selatan. Nanti di atas pulau itu akan dibangun suatu konsep wisata yang namanya konsep wisata budaya betawi tempo dulu. Akan dibangun rumah-rumah khas betawi tempo dulu yang lantainya masih terbuat dari tanah yang dikeraskan atau peluran, temboknya pun masih menggunakan gedek, bahkan sumurnya masih yang digerek menggunakan katrol. Termasuk juga empang-empang, karena oran betawi dulu suka sekali ke empang mencari ikan. Konsepnya memang tradisi atau tradisional yang mengedepankan kultur serta budaya betawi. Tapi bukan berarti anti terhadap modernisasi atau budaya lainnya.
 


2.2       Kuliner Betawi (Kembang Goyang)

            Kembang Goyang merupakan salah satu makanan ringan khas Betawi. Dinamakan kembang goyang karena dalam proses pembuatannya menggunakan cetakan yang berbentuk bunga atau kembang lalu ketika digoreng harus digoyang-goyang agar adonan terlepas dari cetakan. Makanan ini biasa disajikan pada saat Hari Raya Idul Fitri dan acara-acara hajatan. Kue Kembang goyang juga menjadi salah satu kue tradisional nusantara yang disajikan untuk tamu yang bersilaturahmi karena memiliki rasa yang renyah dan gurih. Kue kembang goyang juga dikenal dengan nama kue kembang loyang atau kue loyang di Sumatera. Sementara bagi masyarakat Bali, khususnya pemeluk agama Hindu, biasanya memakai kue kembang goyang ini sebagai salah satu isi sesajian di hari raya keagamaan, seperti hari raya Nyepi.
            Bahan-bahan membuat Kembang Goyang:
·       Santan KARA 1 ukuran 125ml
·       Tepung Terigu ½ kg
·       Telur 1 butir
·       Mentega
·       Gula Pasir
·       Garam
·       Minyak Goreng untuk menggoreng
Cara membuatnya:
·       Masukan telur, mentega, gula pasir, garam aduk sampai gulanya halus.
·      Lalu masukan tepung terigu, santan kelapa dan air putih, aduk merata sampai adonan tidak terlalu kental dan tidak terlalu cair.
·       Siapkan cetakan kembang goyang, panaskan ke dalam minyak panas.
·       Setelah cetakan panas, celupkan cetakan ke dalam adonan lalu masukkan dalam minyak sambil digoyang–goyang sampai kue terlepas dari cetakan.
·       Goreng sampai kering dan matang kecoklatan.
·       Angkat dan tiriskan.
Untuk cetakanan kembang goyang dapat ditemukan di pasar tradisional, ada 3 macam ukuran, yaitu ukuran kecil, sedang dan besar. Kembang goyang betawi tidak menggunakan pewarna, kembang goyangnya original, kalau untuk kembang goyang yang berwarna biasa ditemukan di pinggir jalan di Bogor, Tasikmalaya dan biasanya kembang goyang yang seperti ini adalah khas Sunda. Untuk variasi lainnya dapat ditambahkan wijen agar kembang goyang yang dibuat terasa gurihnya. Kalau yang kembang goyang ciri khas betawi itu original tidak menggunakan wijen. 





1.3       Kerajinan Betawi (Batik Betawi)

            Batik merupakan kain khas Indonesia, hampir di seluruh penjuru Indonesia memiliki ragam batiknya sendiri. Begitupun dengan Betawi, yaitu Batik Betawi, perbedaannya dengan batik lain terletak pada corak dan motif. Motif dan corak Batik Betawi tak lepas dari budaya yang berkembang di Betawi dan banyak dipengaruhi budaya-budaya dari China, Arab, India dan Belanda. Warna-warnanya didominasi warna-warna cerah dengan sedikit corak, seperti biru terang, shocking pink, orange, dan hijau. Pengaruh kebudayaan China muncul melalui warna-warna merah, kuning terang dan ungu muda. Batik Betawi jarang menggunakan warna gelap karena menggambarkan kesedihan. Contoh motifnya adalah ikon-ikon kota Jakarta, misalnya monas, ondel-ondel, atau juga makanan betawi seperti kembang goyang, atau tanaman-tanaman khas betawi seperti jamblang, buni, intinya segala sesuatunya yang berhubungan dengan betawi.
            Produksi pembuatan batik Betawi pun dapat dijumpai di Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Di sini diproduksi kain-kain batik betawi. Jika pengunjung ingin merasakan bagaimana membatik, bisa menyambangi tempat produksi batik Betawi. Batik betawi terdiri dari 2 jenis yaitu batik tulis dan juga batik cap.
Proses pembuatan batik betawi:
1.     Menggambar pola atau motif untuk diaplikasikan ke kain mori, untuk batik tulis. Membuat pola atau cap untuk batik cap.
2.   Membatik, yaitu dengan menorehkan cairan malam menggunakan canting ke kain yang sudah digambar polanya.
3.     Kemudian proses pewarnaan kain, kain dicelupkan ke dalam pewarna. Pewarna yang digunakan ada pewarna alami yang terbuat dari berbagai tanaman seperti sacang, dan pewarna sintesis.
4.  Setelah itu malam pada kain dikerok secara hati-hati dengan menggunakan lempengan logam, kemudian kain dibilas dengan air bersih. Setelah itu, kain diangin-anginkan.
5.     Lalu proses pewarnaan lagi.
6.     Tahapan akhir dalam proses pembuatan sehelai kain batik tulis maupun batik cap yang menggunakan perintang warna (malam). Dalam tahap ini, pembatik melepaskan seluruh malam (lilin) dengan cara memasukkan kain yang sudah cukup tua warnanya ke dalam air mendidih.
7.     Setelah diangkat, kain dibilas dengan air bersih dan kemudian diangin-arginkan hingga kering.








1.4       Kesenian Betawi (Ondel-Ondel)

          Ondel-ondel merupakan boneka besar dengan rangka anyaman bambu dengan ukuran kurang lebih 2,5M, tingginya dan garis tengahnya kurang dari 80 cm. Dibuat demikian rupa agar pemikulnya yang berada di dalamnya dapat bergerak agak leluasa. Rambutnya dibuat dari ijuk,”duk” kata orang Betawi.
Boneka Ondel-ondel Betawi terdiri menjadi 2 bagian yaitu bagian kepala dan bagian badan. Di bagian kepala terdapat mahkota yang berhiaskan lukisan flora dan fauna seperti burung merak, naga, bunga teratai, bunga delima, dan semanggi. Selain itu juga terdapat kembang kelapa di kepala boneka Ondel-ondel. Kembang kelapa yang berbentuk seperti kumpulan daun kelapa diibaratkan dari kota Jakarta yang pada abad ke-15 bernama Sunda Kelapa karena sebagian wilayah Sunda Kelapa merupakan perkebunan kelapa.
Wajah boneka Ondel-ondel rata-rata berwarna merah pada boneka Ondel-ondel laki-laki dan putih pada boneka Ondel-ondel wanita. Warna merah pada Ondel-ondel laki-laki melambangkan kekuatan, kekuasaan, keberanian, dan ego yang keras sedangkan pada ondel-ondel wanita yang berwarna putih melambangkan kesucian, kelembutan, keramahan dan keanggunan.
Pada bagian badan, boneka Ondel-ondel wanita menggunakan pakaian yang disebut kebaya encim, sedangkan untuk laki-laki, pakaian yang digunakan yaitu safari atau ujung serong. Pada badan bagian bawah boneka Ondel-ondel menggunakan sarung yang disebut sarung jamblang. Pada acara-acara resmi, biasanya untuk boneka Ondel-ondel laki-laki di bagian bahunya di selempangkan sarung cukinyang bermotif kotak-kotak, sedangkan pada Ondel-ondel wanita menggunakan selendang yang bermotif flora atau fauna.
Perbedaan ondel-ondel pada jaman dulu dengan sekarang, ada 3 perbedaan, yaitu:1. Bentuk 2. Cara membuat, dan 3. Manfaat dan fungsinya. Onndel-ondel jaman dulu cara membuatnya membutuhkan waktu dan ritual tertentu karena itu berkaitan dengan manfaat dan fungsinya. Fungsi ondel-ondel jaman dulu itu ada fungsi di luar dari manusia, misalnya untuk mengusir hantu, menolak bala, dan sebagainya.
Sebagian masyarakat yang percaya itu, karena dalam pembuatannya memang ada prosesi-prosesinya serta ritual-ritualnya ada kembang tujuh rupa, kemenyan, dan menyiapkan bubur sum-sum dan sebagainya. Waktunya juga ditentukan dengan harapan nanti ruh yang masuk ke dalam ondel-ondel adalah ruh yang baik. Karena manfaatnya untuk mengusir roh jahat nantinya. Contohnya misalnya dalam satu kampung terjangkit suatu penyakit, maka ondel-ondel dibuat dengan harapan agar penyakit tersebut hilang dan pergi dari kampung tersebut. Kalau sekarang manfaat ondel-ondel hanya untuk pajangan, hiburan, serta dekorasi.
Di Perkampungan Budaya Betawi ini pengunjung dapat merasakan bagaimana membuat ondel-ondel mini. Bahan-bahan yang diperlukan adalah:
·       Shuttlecock bekas
·       Kain-kain perca untuk pakaian ondel-ondel
·       Kembang kelapa mini
·       Mata imitasi
·       Lem
·       Spidol
Proses pembuatannya, yaitu:
1.     Keluarkan semua kain-kain perca dari plastik.
2.     Lilitkan potongan bahan untuk pakaian ondel-ondel pada shuttlecock lalu beri lem, ditarik supaya rapih.
3.     Tempelkan kerahnya.
4.     Lalu tempelkan baju ondel-ondelnya.
5.     Tempelkan pula untuk penutup kepala ondel-ondel.
6.     Lem tangan kanan dan kirinya.
7.     Tempel kain flanel di jidat ondel-ondel. tempel mata, beri hidung dan bibir ondel-ondel.
8.     Lalu pasang mahkotanya. 
9.   Maka Ondel-ondel mini sudah jadi. 





BAB III
PENUTUP


3.1       Kesimpulan

            Di tengah-tengah Jakarta ternyata masih ada suatu Perkampungan yang melestarikan dan mengembangkan budaya betawi, yaitu Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Perkampungan ini memang sengaja dibangun oleh Pemerintah dengan tujuan untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat betawi serta mengangkat perekonomian masyarakat yang tinggal di kawasan Perkampungan Budaya Betawi. Terdapat 3 konsep wisata yang tersedia, yaitu wisata budaya, wisata kuliner, dan wisata air.

3.2       Kesan dan Saran

            Kesan pertama kali menginjakan kaki di depan pintu gerbang Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan adalah menyenangkan karena dapat meneliti dan mengunjungi Perkampungan Budaya Betawi Setu Babakan. Kagum rasanya melihat suasana di kawasan perkampungan ini masih kental sekali akan budaya betawinya, apalagi tata grahanya yang sangat rapih dan bagus untuk dijadikan latar mengambil gambar.
Fasilitas yang disediakan pun baik dan terawat mulai dari sarana ibadah, toilet, tempat bermain anak-anak, teater terbuka, wisma, dan pertokoan souvenir.Akses menuju kawasan ini pun relatif mudah. Banyaknya pohon-pohon yang menjulang tinggi membuat udara di kawasan ini terasa sejuk meskipun kala itu tengah terik. Tidak ada sampah yang berserakan dan itu menjadi nilai tambah tersendiri.
Saran, mari bersama-sama melestarikan kebudayaan yang sudah ada, jauh lebih baik apabila dikembangkan. Alangkah baiknya apabila setiap hal mengenai budaya betawi dicatat agar budaya betawi terus hidup dalam sebuah tulisan.


Daftar Pustaka

Website: http://lembagakebudayaanbetawi.com. Diakses pada tanggal 5 Desember 2015. 
Website: http://kampungbetawi.com. Diakses pada tanggal 5 Desember 2015. 



Lampiran












Tidak ada komentar:

Posting Komentar